Tampilkan postingan dengan label Back To IsLam :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Back To IsLam :). Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2011

Hayoo, Itu Cinta Ato Nafsu ?

Jrengg!! jreng!! jrenggg!!! yeah tema kita kali nie adalah tentang jatuh cinta. Yups semua orang yang ngaku normal pasti pernah ngerasain jatuh cinta. Buat yang blon tau tentang kronologisnya jatuh cinta, nich kita kasih info.

Orang jatuh cinta tuh katanya serasa dunia lagi musim gugur terus, innnnnnndaaahhh banget. Kalo tiba- tiba ketemu sama pujaan hati, beuh deg.. deg.. rasanya selangit boss. May be kalo di rongsen plus USG, tuh jantung kecepatannya dah 1000km/jam. Matanya jadi brubah bentuk alias jadi yang pada bentuk hati bgono. Bener- bener ajaib dah pren. Indikasi yang lain yaitu pengeen bener slalu deket- deket ama yang di sayang. Kalo perlu tuh rumah dia dipasangin semacam gelindingan, jadi biar gampang mindahinnya supaya bisa deket terus ama dia. Trus yang pada jatuh cinta biasanya suka senyum- senyum sendiri, nyanyi nyanyi sendiri, nggak pduli dah lagi dijalan ato dimana, hayuk ajah. padahal nggak da tuh sarafnya yang lagi kejepit tau`.

Eiits, anda- tanda keanehan jatuh cinta nggak bhenti ampe situ. Berdasarkan data en nara sumber para korban penyakit cinta, alah, orang yang kena virus ini selain pengen selalu deket biasanya pengen selalu denger suara gebetan yang disayang ituh. Pas ngemenk- ngemenk di telpon biasanya lamaaa banget. Pembicaraannya pun nggak jelas ngebahas apaan. Pokoknya semua yang ada di otak, itulah yang dibicarakan. May be saking lamanya, kambing tetangga sampai melahirkan nggak kan pada nyadar kali`.

Nah, kalo dah pada cape telepon, ganti jurus tuh, pke sms an, mpe jempolnya pada berotot, hihi...

Wow ajaib !!

Waahh, jangan kaget mament.!! Emang kya gitu kalo lagi jatuh cinta, kya kesihir emang, en bener- bener jadi aneh!!

Tapi nih yang rada ngeri bener, dont try this at home yach. sekalinya orang yang kita sayang itu nolak cinta kita, dueerrr!! rasanya kya disambar petir disiang bolonng, rasanya pengen membumi hanguskan semua yang ada. (Lebay!!)...ih sirius tau`!!!. nangisnya kalo perlu ampe lima ember, belon lagih sedihnya yang mendayu- dayu. Nah Loh! Tragedi inilah yang paling mengerikan. badan keker juga nggak ngaruh pren, yang ada malah dulu kuat sekarang jadi ceking cengeng, dimana penampilan trendy jadi bener- bener berubah klasik (baca : tua), pokoknya drastis banget dah. Tuh semua karena manisnya kata-kata cinta berubah jadi pahitnya empedu kebencian (ooo00wwWW…. owww..oooowww!!!)

Heran deh ampe segitunya ya orang jatuh cinta. Eh tapi kalo dipikir- pikir sebenarnya apa sih tujuan mereka ampe ngelakuin hal yang ajaiib itu. KIra- kira nich, kalo yang pada nembak tuh trus ditrima, trus klanjutannya kya gimana sih?. Sebagian besar sih ngejawab, yah jalanin ajah dulu. Maksudnya pacaran ajah dulu. Lagian masih muda inih kan. Kan nggak buru- buru mau nikah juga kan.

Ringaan bener yach. Padahal sebenarnya, tuch cuman pikiran pendek yang nggak berdasar pren. Asli`!! widiiwwww, kenyataan yang ada sekarang niy gawat bener pren.

Berdasarkan data en nara sumber cewek cowok yang pacaran, ternyata yang ada yaitu 2.5nya kilap alias napsu sisanya 0.5 kali yang cinta, itu juga masih berat kotor pren. Yang bersihnya nggak tau tuh tinggal berapa? tanya aja mereka. Ato kalo kamu sendiri juga seperti mereka, coba tanya ajah ma diri sendiri (hayooo pada jujur yach!!)

Pada masih ingat nggak sama perintah Allah di Alquran, `Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk (QS.l7:32). Nah lo, deket-deket ajah nggak boleh, apalagi ampe keperosok jauh ke dalam. Naudzubillah..

Allah ngelarang kita bebuat sesuatu pasti bakal ada maksud baeknya. Nggak percaya? nich buktinya. Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasiaonal (BKKBN) di tahun 2010 diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta. Ironisnya 800 ribu diantaranya terjadi di kalangan remaja. En kebanyakan semua tu kejadian dpake dalih cinta. Ya Allah, cinta macam apa tuh kalo malah nyakitin, ngerusak en ngebuat semua jadi malu, marah, sakit, sedih, dsb, dll

Ada yang bilang, yah mo zina ato nggak kan tergantung orangnya. tapi pertanyaannya siapa yang bakal bisa ngejamin kalo setan nggak ikut campur en jadi pihak ketiga?. Kan mereka datang tak dijemput pulang nggak dianter kan.

Nah dari pada sibuk menebak- nebak yang nggak jelas mendingan kita fokus ma yang baek- baek aja dulu deh. baca bentaran yuk yang ini,

“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS An-Nazi’at : 40-41)

Mau ga mau hidup emang kudu pake aturan pren, nah di rumah ortu ajah kalo kadang nggak ikut aturan mereka bisa- bisa panci melayang nyasar ke kita, apalagih di dunia yang semua muanya jadi hak milik Allah, karena emang Allah yang buat. Kita mah cuman sekedar hamba ajah.

Jadi, buat kamu yang masih punya masalah ama yang namanya cinta, jangan kecil hati dulu. Mencintai tuh nggak salah kok, malah manusiawi banget. Nich bkan masalah cintanya pren, tapi kamu punya kualitas cinta jangan cuman yang kelas bulu donk. Buat cinta kamu tuh begitu berharga sehingga hanya pantas kamu persembahkan kepada yang emang berharga. Jangan silau ma yang namanya cinta dunia en cinta buta.

Cinta tuh jelas beda ma nafsu en maksiat, apalagi zina.

Karena semua digaransi hanya bakal ngebuat hidup kamu tambah ribet en semrawut kya rambut kusut. Mangkanya kamu kudu ati ati jangan ampe salah melangkah en cinta yang awalnya anugrah malah menjadi nafsu yang nggak pke arah. Yang susah tar ujung- ujungnya juga kita juga kok.

So, akhiri semua imaginasi kamu en ketidak jelasan `cinta` yang kamu punya tuh sebelum semuanya terlambat dan mencemari lingkungan sekitar. Sante ajah, semua bakal ada waktunya. Yang penting jaga keindahan dan ketulusannya biar selalu en tetep selalu utuh dan kelihatan indah. Good luck yow!!

(Syahidah/Voa-islam.com)

Kamis, 18 Maret 2010

Menajamkan Mata Hati


Suatu hari Baginda Rasulullah SAW melewati seorang sahabat yang sedang membaca Alquran. Sampailah ia pada ayat yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah (TQS ar-Rahman [55]: 37). Seketika tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam, “Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit terbelah (terjadi kiamat)? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”

Dikisahkan pula, Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak sedang menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirâth, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi, Fadhâ'il A'mâl, hlm. 565.)

Kisah-kisah semacam ini yang menggambarkan rasa takut para sahabat, juga generasi salafush-shalih, terhadap azab Allah SWT sangatlah banyak. Wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada-Nya. Benarlah Fudhail bin Iyadh saat berkata, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebaikan.”


*****

Bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sayang, rasa takut kepada Allah SWT sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Yang terjadi sering sebaliknya. Kita seolah-olah menjadi orang yang paling berani menghadapi azab Allah SWT kelak pada Hari Kiamat. Bagaimana tidak? Perilaku kebanyakan kita menunjukkan demikian. Menerapkan hukum-hukum kufur, mencampakkan hukum-hukum Allah, menerapkan hukum secara tidak adil dan berlaku lalim terhadap rakyat tak lagi dipandang sebagai maksiat. Korupsi, kolusi dan suap-menyuap tak lagi dipandang sebagai dosa. Riba, judi, dan berlaku curang dalam bisnis tak lagi dianggap tindakan salah. Mengobral aurat, bergaul bebas, selingkuh dan zina tak lagi dipandang sebagai perbuatan laknat. Demikian seterusnya. Perilaku demikian nyata sekali menunjukkan bahwa kebanyakan generasi Muslim saat ini adalah orang-orang yang berani menantang azab Allah SWT yang sesungguhnya mahadahsyat! Padahal jika ada setitik saja pada diri kita rasa takut kepada Allah SWT, kita tentu akan selalu berusaha meninggalkan semua perbuatan terkutuk tersebut.

Sepantasnyalah kita malu dengan generasi shalafush-shalih sebagaimana direpresantasikan oleh secuil kisah sahabat di atas. Bagaimana tidak. Sebagian mereka sudah mendapatkan jaminan Allah SWT untuk masuk surga. Namun, toh rasa khawatir dan takut kepada Allah SWT yang luar biasa sering menyelimuti sebagian besar kalbu mereka. Simaklah kembali kekhawatiran dan rasa takut Umar ibn al-Khaththab ra., salah seorang sahabat besar Rasulullah SAW yang telah dijamin masuk surga, saat beliau bertutur, “Pada Hari Kiamat nanti, apabila diumumkan bahwa semua manusia akan masuk surga, kecuali seorang saja yang masuk neraka, maka aku sangat khawatir bahwa yang seorang itu adalah aku karena begitu banyaknya dosa-dosaku.”

Bagaimana dengan kita? Meski jelas kita sangat jauh lebih banyak dosanya daripada Umar bin al-Khaththab ra dan belum pasti mendapatkan 'tiket' masuk surga, rasa khawatir dan takut kepada azab Allah SWT sepertinya sulit tumbuh dalam diri kita. Kebanyakan kita santai-santai saja, bahkan sepertinya sudah kebal dengan rasa takut kepada Allah SWT, dan tidak khawatir dengan azab-Nya yang pasti siapapun mustahil sanggup menanggungnya.

Jika sudah demikian, sepertinya kita perlu kembali merenungkan firman Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi, “Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada seorang hamba. Jika ia tidak takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat. Jika ia takut kepada-ku di dunia maka Aku akan menghilangkan rasa takut pada dirinya di akhirat.”

Karena itu, benarlah Abu Sulaiman Darani saat berkata, “Kecelakaanlah bagi jiwa yang kosong dari rasa takut kepada Allah SWT!”

Lantas mengapa kebanyakan generasi Muslim saat ini begitu hampa dari rasa takut kepada Allah SWT? Tidak lain, sebagaimana dinyatakan Allah SWT sendiri, “Sesungguhnya bukanlah mata-mata lahiriah mereka yang buta, tetapi yang buta ialah mata-mata hati mereka yang ada di dalam dada.” (TQS al-Hajj [22]: 46).

Ya, kebanyakan mata hati kita memang sudah dibutakan oleh gemerlap dunia yang sesungguhnya bersifat sementara dan cenderung menipu. Akibatnya, kita tak sanggup lagi melihat pahala dan dosa, serta tak berdaya lagi menatap nikmat surga dan azab neraka yang sesungguhnya kekal dan abadi serta benar-benar 'nyata'.

Alhasil, marilah kita kembali menajamkan mata hati![] arief b. Iskandar in Mediaumat.com

Minggu, 21 Februari 2010

NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT

Inilah nasehatku kepada ikhwan dan akhwat fillah pada khususnya, dan kepada seluruh manusia pada umumnya. Inilah nasehatku buat kalian dan juga buat diriku sendiri. Yaitu ; hendaklah kita senantiasa memperhatikan Al-Qur'an, merenungi makna-maknanya. mengahafalnya di luar kepala, tamak untuk terus menerus membacanya, sesekali membaca dengan cara melihat pada mushaf, kali lain membaca dengan hafalan tanpa melihat mushaf. Manakala pembaca Al-Qur'an tergolong yang sudah hafal maka ditindaklanjuti dengan merenungi, memikirkan, dan mencari faedah dari apa yang dibaca. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah :

"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran". [Shad : 29].

Adapun pelaksanaannya yaitu dengan pengamalan, pemahaman dan pendalaman. Allah subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Al-Qur'an untuk diamalkan, dikaji dan didalami. Allah berfirman :

"Artinya : Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat". [Al-An'am : 155]

Al-Qur'an ini diturunkan untuk diamalkan dan diikuti. Tidak semata-mata hanya untuk dibaca dan dihafal. Karena menghafal dan membaca itu sekedar perantara saja. Adapun yang dimaksudkan adalah memahami kitab dan sunnah disertai dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangannya. Hal itu terkumpul dalam perintah Allah Ta'ala di dalam surat At-Taubah : 71.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [At-Taubah : 71]

Ayat ini merupakan kumpulan dari ayat-ayat yang secara menyeluruh menjelaskan sifat-sifat mukmin dan mukminat dan akhlaknya yang agung serta apa-apa yang diwajibkan atas mereka. Maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain". [At-Tubah : 71].

Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mukminin dan mukminat, mereka itu adalah saling menjadi wali satu sama lain, mereka saling memberi nasehat dan saling mencintai karena Allah dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran dan saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa. Demikian sifat mukminin dan mukminat.

Seorang mukminin menjadi wali atas saudaranya fillah, yang laki-laki dan perempuan. Seorang mukminat menjadi wali bagi saudaranya fillah, baik yang laki-laki dan perempuan. Masing-masing diantara mereka merasa senang terhadap kebaikan (yang diperoleh) saudaranya. Mereka mendoakan kebaikannya, turut bahagia atas keistiqamahan saudaranya dan mencegah keburukan yang akan menimpanya, tidak melakukan ghibah padanya, tidak berbicara yang dapat menjatuhkan kehormatannya, tidak mengadu domba tidak memberikan persaksian palsu atasnya dan tidak memakinya, serta tidak memanggilnya dengan panggilan bathil. Demikianlah akhlak mukminin dan mukminat.

Manakala kau dapatkan dirimu menyakiti saudaramu fillah baik laki-laki atau perempaun misalkan dengan mengghibah, mencela, mengadu domba atau mendustainya dan lain semisalnya, ketahuilah bahwa keimananmu kurang atau engkau adalah orang yang lemah iman. Seandainya keimananmu itu benar-benar lurus lagi sempurna, niscaya kamu tidak akan mendhalimi saudaramu atau melakukan ghibah dan adu domba, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan bathil, atau memberikan persaksian palsu atau sumpah palsu atau mencacinya dan semisalnya. Maka keimanan kepada Allah, dan rasul-Nya, taqwa kepada Allah, kebaikan dan hidayah, kesemuanya itu mencegah seseorang melakukan tindakan yang menyakitkan saudaranya fillah baik laki-laki atau wanita. Mereka dilarang melakukan ghibah, cacian, kedustaan, memanggil dengan sebutan yang bathil, mempersaksikan dengan kedustaan dan berbagi macam tindak kezhaliman. Keimanan seseorang yang benar, merintangi dan menghalangi untuk berbuat berbagi tindakan yang menyakitkan saudaranya.

Allah berfirman :

"Artinya : .... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar,....." [At-Taubah : 71]

Inilah kewajiban yang besar yang didalamnya ada kebaikan bagi umat, kemenangan bagi agama dan terhindarnya sebab-sebab kebinasaan, kemaksiatan dan kejahatan.

Sudah selayaknya bagi mukminin dan mukminat untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Seorang mukmin tidak akan berdiam diri melihat kemungkaran yang terjadi pada saudaranya, pastilah ia berusaha untuk mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudara, bibi atau saudari perempuan yang lain melakukan kemaksiatan pastilah mereka akan mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudaranya fillah meremehkan kewajiban pastikah akan mengingkarinya dan memerintahkannya kepada kebaikan. Itu semua dilakukan dengan bijak dan cara yang baik. Seorang mukmin apabila melihat saudaranya bermalas-malas dalam menunaikan shalat, melakukan ghibah, adu domba, minum khamr, merokok, mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali persaudaraan, pastilah ia akan mengingkarinya dengan ucapan yang baik dan cara yang tepat, ia tidak menuduhnya dengan sebutan yang dibenci atau dengan cara yang kasar. Allah telah memberikan penjelasan bahwa hal tersebut adalah dilarang.

Demikian pula jika ia melihat kemungkaran pada diri saudara perempuannya fillah, ia harus mengingkarinya. Seperti tatkala dia tidak patuh kepada orang tuanya, berlaku buruk pada suaminya, meremehkan pendidikan anak-anaknya atau meremehkan shalatnya, maka seorang mukmin harus mengingkarinya, baik (ia itu) suaminya, ayahnya, saudaranya, kemenakannya atau bahkan tidak ada hubungan kekerabatan dengannya. Sebaliknya jika seorang mukminah melihat pada diri suaminya sikap meremehkan (kewajiban), ia pun harus melarangnya. Seperti, jika ia melihat suaminya minum khamr, merokok,meremehkan shalat atau suaminya shalat fardhu di rumah (tidak di masjid), maka ia harus mengingkarinya dengan cara yang baik dan ucapan yang baik pula. Seperti dengan mengatakan (kepada suaminya), "Wahai Hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah ! Sesungguhnya perbuatan itu tidak boleh kamu lakukan. Peliharalah shalat jama'ah. Tinggalkanlah apa yang telah diharamkan Allah kepadamu dari minuman yang memabukkan, merokok, mencukur jenggot, memanjangkan kumis atau isbal".

Kemungkaran-kemungkaran ini wajib diingkari oleh setiap orang beriman. Maka hal ini wajib atas suami dan istri, saudara, kerabat, tetangga, teman duduk dan yang lain untuk menegakkan kewajiban ini. Sebagaimana firman Allah :

"Artinya : ... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar ....". [At-Taubah : 71]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya, apabila manusia telah melihat kemungkaran, lalu ia tidak mau merubahnya, dikhawatirkan Allah akan meratakan adzab-Nya".

"Artinya : Barangsiapa di antara kamu sekalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman".

Perintah ini berlaku umum untuk seluruh bentuk kemungkaran, baik yang terjadi di jalan-jalan, di rumah, di masjid, di kapal terbang, di kereta api, di mobil atau di tempat mana saja. Perintah amar ma'ruf nahi mungkar itu berlaku secara umum baik kepada laki-laki atau perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan harus berbicara tentang amar ma'ruf dan nahi mungkar. Karena amar ma'ruf nahi mungkar membawa kebaikan dan keselamatan untuk semua pihak. Tak seorangpun boleh berdiam diri dari amar ma'ruf nahi mungkar semata-mata karena takut kepada setiap muslim atau takut kepada suami, saudara laki-laki atau fulan dan fulan. Setiap muslim harus tetap beramar ma'ruf nahi mungkar dengan cara yang baik dan ucapan yang mengena, tidak dengan cara yang kasar dan keras. Disamping juga memperhatikan waktu yang tepat. Ada kalanya, seseorang tidak bisa menerima pengarahan pada waktu tertentu, tetapi ia bisa menerima pengarahan pada waktu yang lain, bahkan dengan lapang dada.