Wahai saudaraku,
Andai engkau tahu
Debu fisabilillah yang menempel di kakimu
Dapat menyelamatkan dari neraka Jahannam
Kenapa kau tinggalkan jihad?
Wahai saudaraku,
Andai engkau paham
Sekejap dalam medan jihad
Dapat mengharuskanmu memasuki
kenikmatan dan keindahan Jannatun Na’im
Kenapa memilih selain jihad?
Wahai saudaraku,
Andai kau mengerti
Berak dan berseninya kudamu fisabilillah
Bernilai pahala bagimu di sisi Robmu
Kenapa masih bimbang untuk berjihad?
Wahai saudaraku,
Andai kau tahu
Timah panas yang mengoyak tubuhmu
dapat menghantarkanmu memeluk mesra Bidadari jelita
Kenapa takut berjihad?
Wahai saudaraku,
Andai kau faham
Dentuman bom yang mencabik-cabik dagingmu
dapat menyibukkanmu bercanda ria di pangkuan Bidadari jelita
selama berpuluh-puluh tahun tanpa bosan
Kenapa masih ragu untuk berjihad?
Wahai saudaraku,
Andai kau mengerti
Ledakan mortir yang meremukkan tulang belulangmu
dapat menghantarkanmu berbaring mesra di atas kasur
dalam kamar mempelai bersama bidadari yang tidak pernah
hilang keperawanannya
Kenapa enggan berjihad?
Wahai saudaraku,
Andai kau faham
Tetesan darah pertama yang kau tumpahkan di medan jihad
dapat menghapuskan semua dosa-dosamu
Tidak ada pilihan lain bagimu selain jihad?
Duhai saudaraku,
Seandainya engkau faham
Seandainya engkau mengerti
Seandainya engkau tahu
Dan seandainya engkau berakal
Engkau pasti memilih jihad.
(Abdullah Sonata)
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. . n' Dakwah. .. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. . n' Dakwah. .. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 April 2011
Selasa, 30 Maret 2010
Ide Kreatif Muslim Jerman Mendakwahkan Islam
Diposting oleh
Ukhty Humaira Al Mahmudah
di
03.11

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendakwahkan Islam. Sebagai perancang busana, Melih Kesmen melakukannya lewat baju-baju rancangannya yang kini menjadi trend, bukan cuma di kalangan anak muda tapi juga orang-orang dewasa di Jerman.
Lewat kaos dan jaket kasual rancangannya, Kesmen ingin mengatakan pada dunia bahwa Islam sepadan dengan nilai-nilai yang berlaku di Barat dalam hal toleransi dan kebebasan berekspresi. Islam juga bisa keren dan modern sesuai perkembangan zaman. Di kaos dan jaket buatannya, Kesmen mencantumkan tulisan-tulisan yang mempromosikan Islam, misalnya "Hijab. My right. My choice. My life" atau "Terrorism has no religion".
Kesmen, Muslim Jerman keturunan Turki ini mengawali ide kreatifnya pada tahun 2006, saat sedang ramai-ramainya aksi protes di seluruh Eropa terhadap harian Denmark yang mempublikasikan kartun-kartun yang menghina Rasulullah Saw. Kesmen merasa muak dengan stereotipe dan sikap anti-Muslim yang muncul bersamaan dengan maraknya aksi protes itu. Ia kemudian mendapat ide untuk mengungkapkan perasaannya itu lewat rancangan busana yang dibuatnya.
"Pertama, saya membuat baju hangat untuk saya sendiri dengan mencantumkan slogan 'I love My Prophet' di baju itu untuk menunjukkan diri saya sebagai seorang Muslim yang memiliki sikap toleransi dan mencintai perdamaian," ungkap Kesmen yang masih berusia 34 tahun.
Tak diduga, baju hangat yang dipakainya menarik perhatian banyak orang. Saat ia sedang berjalan di luar dan mengenakan baju hangat itu, orang selalu menghentikan langkahnya dan bertanya dimana ia membeli baju tersebut. Kesmen lalu menyadari ada celah pasar yang bisa ia manfaatkan. Bersama isterinya, Yeliz, Kesmen membuat baju-baju kasual dengan menyematkan tema-tema Islami.
Setelah lebih dari tiga tahun, Kesmen sudah membuat sekitar 35 motif berbeda dengan menggabungkan Islam dan budaya pop gaya anak muda. Selain, produk busana, Kesmen juga membuat tas dan poster-poster Islami.
"Kaum perempuan senang membeli baju anak-anak yang bertuliskan 'Mini Muslim' di bagian dadanya," kata Yeliz, isteri Kesmen. (ln/isc)
(www.eramuslim.com)
Minggu, 14 Maret 2010
KONDISI MUSLIMIN HARI INI
Diposting oleh
Ukhty Humaira Al Mahmudah
di
22.40
Hari ini umat Islam tidak sadar bahwa agama telah dirusak, bahkan tidak sadar bahwa agama perlahan-lahan mulai keluar dari dalam dirinya. Merasa bangga hidup dalam kemusyrikan, saling berbangga hidup dalam kemunafikan, dan saling berbangga hidup dalam kejahilan. Ketika berhadapan dengan urusan perut dan di bawah perut, ia mengikuti cara-cara orang kafir dalam mendapatkan dan memanfaatkannya. Ia bangga dengan pakaian orang-orang kafir, bahkan tanpa sadar seluruh pola hidupnya mengikuti cara-cara para ahli bathil.
Rasulullah saw bersabda, "Kalian pasti akan mengikuti perilaku orang terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk ke liang biawak niscaya kalian akan mengikuti mereka." Para sahabat r.a. bertanya , "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?" Rasulullah saw menjawab, "Siapa lagi!" (HR. Bukhari dan Muslim).
"Tidak akan datang hari kiamat kecuali setelah ummatku (kaum Muslimin) mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang pada kurun waktu terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan sedepa demi sedepa. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah seperti orang Persi dan Rum?" Rasulullah saw menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muslim).
Wallahu a'lam....
Rasulullah saw bersabda, "Kalian pasti akan mengikuti perilaku orang terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk ke liang biawak niscaya kalian akan mengikuti mereka." Para sahabat r.a. bertanya , "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?" Rasulullah saw menjawab, "Siapa lagi!" (HR. Bukhari dan Muslim).
"Tidak akan datang hari kiamat kecuali setelah ummatku (kaum Muslimin) mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang pada kurun waktu terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dan sedepa demi sedepa. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah seperti orang Persi dan Rum?" Rasulullah saw menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muslim).
Wallahu a'lam....
Sabtu, 13 Maret 2010
Menjadi muslimah idaman
Diposting oleh
Ukhty Humaira Al Mahmudah
di
20.52
Masa remaja adalah masa yang paling indah. Itulah sebabnya, remaja yang menyadarinya memanfaatkannya untuk mengukir prestasi dan karya yang membanggakan, supaya tidak menyesal di hari tua. Imam Maliki, pemimpin mazhab yang begitu ketat memanfaatkan masa remajanya untuk berkarya pun pernah mengkhayal ingin menjadi remaja lagi walau hanya sehari. Keinginan itu timbul karena masa remaja begitu indahnya. Maka, bisa dibayangkan apa yang dirasakan mereka yang bermalas-malasan atau tak berprestasi di masa remaja.
Realitas sosial menunjukkan remaja Islam, khususnya remaja muslimah, masih banyak yang mengisi masa remajanya dengan berbagai hal yang sia-sia, bergaya hidup materialistis, tidak peduli halal-haram, berpenampilan sensual, individualis, tidak mengenal tata-krama, serta kurang hormat kepada kedua orangtua. Keshalehan dianggap sebagai barang usang.
Padahal, jadi muslimah shalehah itu indah. Betapa tidak, muslimah shalehah tidak hanya indah dari segi fisik dan penampilannya (outer beauty) saja, melainkan juga dari segi kepribadiannya (inner beauty), yang tercermin dari kebeningan hati, kejernihan pikiran, kemuliaan akhlak, keluhuran budi pekerti, kesederhanaan, dan ketulusan perilakunya dalam setiap situasi dan kondisi, baik dalam pergaulan di tengah keluarga maupun di tengah masyarakat.
Agar kepribadian muslimah shalehah lebih indah, maka seorang muslimah harus lebih banyak memperdalam ilmu, terutama tentang apa dan bagaimana agenda muslimah shalehah dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari masa akil baligh atau masa bertanggung jawab pada diri sendiri, pembentukan identitas pribadi, penentuan jalan hidup, sampai pada pengambilan peran dalam kehidupan bermasyarakat, serta cara berbakti kepada kedua orangtua.
Muslimah shalehah tidak berspekulasi dalam pergaulan, melainkan menjalin persahabatan sesuai syari'ah, aktif mengikuti kegiatan sekolah, berprestasi, merencanakan keberhasilan, dan belajar mengasah kepedulian. Muslimah shalehah juga menjadikan kejujuran sebagai karakter utama, tampil PD, serta memiliki wawasan luas.
Lebih daripada itu, dia suka melibatkan diri dalam kegiatan sosial, karena ia tahu kewajiban sosialnya. Ia mengembangkan cinta kasih, bersifat pemaaf, suka menolong, menghindari jalan hidup kufur, menciptakan lingkungan Islami, suka berdakwah dan taat beragama, siap dalam menghadapi suka-duka kehidupan, dan selalu mengambil hikmah di balik setiap kegagalan dan keberhasilan.
Di atas segalanya, muslimah shalehah lebih menyukai hidup mandiri dan produktif, selalu berpenampilan menyenangkan, menjaga kehormatan keluarga, dan memahami kecemasan orangtua, serta tahu berterima kasih, membalas budi, dan berbakti kepada kedua orangtua.
Realitas sosial menunjukkan remaja Islam, khususnya remaja muslimah, masih banyak yang mengisi masa remajanya dengan berbagai hal yang sia-sia, bergaya hidup materialistis, tidak peduli halal-haram, berpenampilan sensual, individualis, tidak mengenal tata-krama, serta kurang hormat kepada kedua orangtua. Keshalehan dianggap sebagai barang usang.
Padahal, jadi muslimah shalehah itu indah. Betapa tidak, muslimah shalehah tidak hanya indah dari segi fisik dan penampilannya (outer beauty) saja, melainkan juga dari segi kepribadiannya (inner beauty), yang tercermin dari kebeningan hati, kejernihan pikiran, kemuliaan akhlak, keluhuran budi pekerti, kesederhanaan, dan ketulusan perilakunya dalam setiap situasi dan kondisi, baik dalam pergaulan di tengah keluarga maupun di tengah masyarakat.
Agar kepribadian muslimah shalehah lebih indah, maka seorang muslimah harus lebih banyak memperdalam ilmu, terutama tentang apa dan bagaimana agenda muslimah shalehah dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari masa akil baligh atau masa bertanggung jawab pada diri sendiri, pembentukan identitas pribadi, penentuan jalan hidup, sampai pada pengambilan peran dalam kehidupan bermasyarakat, serta cara berbakti kepada kedua orangtua.
Muslimah shalehah tidak berspekulasi dalam pergaulan, melainkan menjalin persahabatan sesuai syari'ah, aktif mengikuti kegiatan sekolah, berprestasi, merencanakan keberhasilan, dan belajar mengasah kepedulian. Muslimah shalehah juga menjadikan kejujuran sebagai karakter utama, tampil PD, serta memiliki wawasan luas.
Lebih daripada itu, dia suka melibatkan diri dalam kegiatan sosial, karena ia tahu kewajiban sosialnya. Ia mengembangkan cinta kasih, bersifat pemaaf, suka menolong, menghindari jalan hidup kufur, menciptakan lingkungan Islami, suka berdakwah dan taat beragama, siap dalam menghadapi suka-duka kehidupan, dan selalu mengambil hikmah di balik setiap kegagalan dan keberhasilan.
Di atas segalanya, muslimah shalehah lebih menyukai hidup mandiri dan produktif, selalu berpenampilan menyenangkan, menjaga kehormatan keluarga, dan memahami kecemasan orangtua, serta tahu berterima kasih, membalas budi, dan berbakti kepada kedua orangtua.
Untuk kalian wahai pemuda pemikul harapan islam
Diposting oleh
Ukhty Humaira Al Mahmudah
di
20.34
Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar
SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.
Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”
Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.
اَلاَ لَيْتَ الشَّباَب يَعْود يَوماً . سأُخْبِره بِماَ فَعَلَ الْمَشيْب
“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.
Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.
Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.
Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.
Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.
Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.
Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.
أَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ أَخِرَهُ وَ خَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِيْمَهُ وَ خَيْرَ أَيَّامِيْ يَوْمَ أَلْقاَكَ فِيْهِ
“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].
Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).
Ali bin Abi Thalib mengatakan:
مَنْ ساَءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ
“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”
Mengikuti Siklus Ibadah
Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah Saw.
demikian sabda Nabi.
Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).
Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).
Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid
Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah
Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari
Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan
Muhasabah : Seminggu sekali
Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.
Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.
Bangkit Dari Keterpurukan
Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.
Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:
Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).
Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.
Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].
Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.
Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.
Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).
Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.” [Abu Hilyatil Auliyah
http://www.hidayatullah.com/kolom/tazkiyatun-nufus/10992-wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuahHadziqoh/www.hidayatullah.com]
SEMUA manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.
Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”
Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.
اَلاَ لَيْتَ الشَّباَب يَعْود يَوماً . سأُخْبِره بِماَ فَعَلَ الْمَشيْب
“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.
Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.
Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.
Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.
Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.
Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.
Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.
أَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِيْ أَخِرَهُ وَ خَيْرَ عَمَلِيْ خَوَاتِيْمَهُ وَ خَيْرَ أَيَّامِيْ يَوْمَ أَلْقاَكَ فِيْهِ
“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].
Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).
Ali bin Abi Thalib mengatakan:
مَنْ ساَءَ خُلُقُهُ عَذَّبَ نَفْسَهُ
“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”
Mengikuti Siklus Ibadah
Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah Saw.
demikian sabda Nabi.
Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).
Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).
Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid
Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah
Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari
Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan
Muhasabah : Seminggu sekali
Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.
Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.
Bangkit Dari Keterpurukan
Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.
Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:
Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).
Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.
Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].
Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.
Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.
Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).
Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.” [Abu Hilyatil Auliyah
http://www.hidayatullah.com/kolom/tazkiyatun-nufus/10992-wahai-pemuda-jangan-layu-sebelum-berbuahHadziqoh/www.hidayatullah.com]
Langganan:
Postingan (Atom)
+of+11132_1181933199993_1578092914_4525.jpg)




