Sabtu, 06 Maret 2010

Bila Kebebasan Melanggar Norma

Uji materiil UU No 1/PNPS/1965 tentang penodaan agama yang dillakukan oleh sejumlah LSM menuai pro dan kontra. UU tersebut dimohonkan uji materi oleh sejumlah LSM yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), di antaranya IMPARSIAL, ELSAM, PBHI, DEMOS, Perkumpulan Masyarakat Setara, Desantara Foundation, dan YLBHI. Sedangkan individu yang mengajukan uji materi tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid, Prof Dr Musdah Mulia, Prof M Dawam Rahardjo, dan KH Maman Imanul Haq.
Menurut para pemohon, pasal-pasal dalam UU No 1/PNPS/1965 menunjukkan adanya kebijakan yang diskriminatif antaragama, bertentangan dengan prinsip toleransi, keragaman, dan pemikiran terbuka, membatasi serta bertentangan dengan jaminan kebebasan beragama seperti yang terdapat dalam UUD 1945. karena itu, UU tersebut perlu di cabut untuk memberikan kebebasan kepada masyarakat Indonesia.

Sementara itu, menuut Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi UU tersebut perlu dipertahankan, karena itu, permintaan agar undang-undang tersebut dicabut atas nama demokrasi tidaklah tepat. Tanpa peraturan yang terjadi adalah anarki. Di satu sisi, orang bisa berbuat sesukanya membuat agama atau aliran kepercayaan sesuai selera. Di sisi lain, masyarakat yang tidak terima akan berbuat sesukanya untuk melakukan penghakiman. Penolakan serupa juga dilakukan oleh Muhammadiyah. menurutnya UU penodaan agama masih dibutuhkan oleh rakyat Indonesia untuk mencegah tindakan anarkisme masyarakat.

Dari Solo penolakan dilakukan sejumlah ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, YPIA, MUI se Soloraya, Kantor Depag, Dewan Dakwah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Universitas Sebelas Maret (UMS), Hizbut Tahrir (HT), PNII, FKAM, Hisbullah Sunan Bonang, FPIS, FPI, Takmirul Islam, serta Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI).

Dalam konferensi pers, Jumat (19/2) di Gedung Majelis Tafsir Alquran (MTA) mereka menolak pencabutan UU tersebut sebagaimana yang diinginkan oleh sejumlah LSM. Sejumlah ormas Islam tersebut juga mengeluarka empat butir deklarasi yang mereka sebut dengan Deklarasi Solo. Keempat butir tersebut adalah; pertama; Umat Islam Soloraya menolak mutlak semua permohonan tim advokasi kebebasan beragama kepada MK tentang pencabutan UU No 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama. Kedua; menuntut Luthfi Assyaukani ahli pemohon supaya mencabut secara resmi pernyataannya yang menghina Nabi Muhammad SAW dalam sidang MK 17 Februari 2010, dalam forum yang sama. Ketiga; mengusulkan kepada pemerintah untuk melarang semua kegiatan JIL karena telah meresahkan dan merugikan umat Islam. dan keempat; mengimbau umat Islam agar mewaspadai gerakan klandesta (gerakan rahasia) oleh kelompok atau individu yang tidak bertanggung jawab dan bertujuan melakukan de islamisasi. (Solo Pos, Sabtu, 20 Pebruari 2010).

Sebenarnya kebebasan berawal dari liberalisasi yang terjadi di barat, dimana mereka melahirkan kebebasan (freedom), persamaan (equality) dan kesempatan (opportunity). Paham ini berasal dari Yunani Kuno yang menjadi elemen terpenting pembangun peradaban Barat.
Lahirnya liberalisme dipicu oleh kekuasaan raja yang absolut. Kaum bangsawan mempunyai hak-hak istimewa, sementara rakyak hak-haknya sangat dibatasi, ditekan dan ditindas. Proses liberalisasi ditandai dengan keluarnya Maqna Charta di Inggris oleh Raja John pada tahun 1215. Charta ini sekaligus membatasi kekuasaan Raja John itu sendiri.
Perkembangan selanjutnya, tahun 1688 terjadinya revolusi yang mampu melengserkan Raja James II di Inggris dan Raja James VII di Scotland dan menggantinya dengan Raja William II dan Mary II. Pada saat itu, rakyat mampu mengurangi hak-hak kekuasaan sang raja. Seorang filosof Inggris, John Locke mengatakan bahwa setiap orang yang terlahir mempunyai hak-hak dasar yang tidak boleh dirampas, seperti hak hidup, hak untuk memiliki sesuatu, kebebasan membuat opini, beragama dan berbicara. Menurutnya, pemerintah tugasnya hanyalah menjamin hak-hak dasar tersebut.

Paham “Kebebasan” (liberty/freedom) secara resmi digulirkan oleh kelompok Free Mason yang mulai berdiri di Inggris tahun 1717. Kelompok ini kemudian berkembang pesat di AS mulai tahun 1733 dan berhasil menggulirkan revolusi tahun 1776. Patung liberty menjadi simbol kebebasan. Prinsip freedom dijunjung tinggi. Tahun 1789, gerakan kebebasan berhasil menggerakkan Revolusi Perancis juga dengan mengusung jargon “liberty, egality, fraternity”.
Pada tahun 1748, Montesquieu mengajarkan pemisahan kekuasaan Negara (separate of powers) dalam bukunya The Spirit of the Laws. Menurutnya kekuasaan dibagi tiga; eksekutif, yudikatif dan legislatif. Sementara JJ. Rousseau dalam bukunya The Social Contract pada tahun 1762 menyatakan bahwa kekuasaan sebenarnya berada ditangan rakyat, bukan ditangan raja.

Hampir bersamaan, Voltaire menyatakan bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur dalam kebebasan individu. Ketiga filosof inilah yang akhirnya pada tahun 1789 menginspirasi lahirnya Revolusi Perancis.
Sebelum Revolusi Perancis, pada tahun 1783 Amerika memerdekaan diri dari penjajahan Inggris. Pada tahun 1788 Amerika menetapkan pemerintahan demokrasi yang membagi kekuasaan menjadi tiga; presiden, konggres dan pengadilan federal. Pada tahun 1789 bersamaan dengan Revolusi Perancis, Amerika mencetuskan Bill of Right –deklarasi hak asasi manusia-. Pada tahun 1871, Bill of Right diamandemen yang isi terpentingnya adalah kebebasan berbicara, pers, beragama dan lainnya. Begitulah, kebebasan terus menggelinding bagaikan bola salju. Akhir abad 18 banyak raja-raja di Eropa yang kehilangan hak-hak istimewanya.
Tahun 1941 Presiden Amerika, Franklin D. Roosevelt mendeklarasikan empat kebebasan. Kebebasan pendapat (freedom of speech), kebebasan beragama (freedom of religion), kebebasan dari kemelaratan (freedom from want) dan kebebasan dari ketakutan (freedom of fear). Pada tahun 1948 PBB mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights, Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia.

Begitulah, kebebasan terus menggelinding menyerbu berbagai negara. Dalam dunia modern, kebebasan seakan menjadi ‘sila dunia’ yang wajib diterapkan. Sayangnya, kebebasan seluruhnya berkiblat ke barat dengan meninggalkan jati diri bangsa yang memiliki karakter dan keragaman masing-masing. kebebasan yang sebebas-bebasnya hanya akan menodai HAM manusia itu sendiri. Yang terjadi manusia saling menerkam atas nama kebebasan. Karena itu layak untuk direnungkan ungkapan Arthur Miller, Seniman film Amerika dalam salah satu dramanya yang berjudul; ‘After the Fall’ yang mengatakan; ‘Sesungguhnya tempat yang paling banyak kebebasan di negeriku adalah rumah sakit jiwa, sedangkan kebebasan yang sempurna adlaah ketika sakit gila’.

http://elhakimi.wordpress.com/2010/02/25/bila-kebebasan-melanggar-norma/

**** Hnacurkan kebebasan dengan KEIMANAN***
Allohu Akbaar!! Salam Perjuangan...

200 WARGA JEPANG MASUK ISLAM

Tokyo (ANTARA News) - Meningkatnya pemahaman rakyat Jepang mengenai Islam dapat terlihat dari semakin banyaknya warga Negeri Sakura itu yang menjadi muslim, yakni sebanyak 200 orang dalam tujuh tahun terakhir.

Demikian catatan yang dikemukakan oleh pemimpin masjid Jamii Tokyo, Ensari Yenturk, kepada ANTARA News, di Tokyo, kemarin.

"Peningkatan itu terjadi sejak tahun 2000. Setiap bulan umumnya tercatat tiga warga Jepang yang menjadi muslim," kata Ensari yang malam itu berpenampilan rapih dan modern.

Menurut imam yang juga menjadi direktur dari Pusat Kebudayaan Turki di Jepang itu, peningkatan warga jepang yang menjadi muslim sejalan dengan semakin menginternasionalnya bangsa Jepang dalam tata pergaulan dunia. Hal itu juga membuat masyarakatnya juga menjadi lebih terbuka dalam menerima pandangan peradaban dari negara lain, termasuk keberadaan Islam.

"Kontak Jepang dengan negara-negara Islam juga semakin banyak sehingga membuat hubungan kemanusian juga semakin erat," ujarnya, membuka perspektif masyarakat muslim di Jepang.

Ia juga mencontohkan keberadaan komunitas muslim lainnya di Jepang seperti Tukri, Indonesia, Pakistan dan juga dari negara-negara Afrika lainnya membuktikan sikap rakyat Jepang yang sudah semakin berubah.

Dalam pandangannya, ketertarikan menjadi muslim juga terdorong situasi di Jepang sendiri, seperti kultur bangsa Jepang yang dikenal sebagai pekerja keras dan ulet.

"Banyak dari mereka yang tidak memperhatikan hal-hal mendasar dari kehidupan seperti siapa yang menciptakan dunia dan dari mana awalnya kehidupan itu," katanya lagi.

Ia juga menyebutkan contoh, tingginya angka bunuh diri warga Jepang, sebagai sesuatu yang patut dicermati secara serius.

Lebih dari itu banyaknya generasi muda Jepang yang cenderung tidak peduli dengan agamanya, meski kalau ditanya kebanyakan penduduk Jepang mengakui beragama Shinto atau Budha.

Ia juga menceritakan betapa pengetahuan mengenai Islam masih didominasi oleh media Barat, yang setidaknya ikut membentuk cara pandang tentang muslim yang sama dengan cara Barat.

Keberadaan komunitas muslim di Jepang berkembang pesat sejak pertengahan tahun 1980, saat Jepang mengalami "buble economic". Sebelum tahun itu pertumbuhannya relatif kecil.

Warga Jepang (asli) yang menjadi muslim, menurut Ensari Yenturk, diperkirakan mencapai 10 ribu orang, meski diakuinya tidak ada data yang akurat soal itu. Begitu juga soal keberadaan masyarakat muslim di Jepang, namun ia menyebutkan angka sekitar seratus ribu jiwa.(*)

http://www.antara.co.id/view/?i=1190361878&c=SBH&s=

Menolak Syari'at Menuai Laknat, Makanya Taubat.. :)

Sebagaimana telah dimaklumi, akidah Islam sesungguhnya merupakan pemikiran yang paling mendasar yang melahirkan syariat Islam. Dengan kata lain, syariat Islam merupakan cabang dari akidah Islam yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Upaya pemisahan syariat Islam dari akidahnya (sekularisasi) sama saja dengan memisahkan batang pohon dari akarnya; tidak akan dapat menghasilkan buah (manfaat). Sebab, memisahkan keduanya berarti menghilangkan pengaruhnya dan mencabut fungsinya. Hilangnya pengaruh syariat tidak mungkin terjadi sekiranya akidah Islam dipahami secara benar. Seorang Muslim yang memahami akidah Islam secara benar tentu tidak akan terdorong untuk mencampakkan syariat yang dilahirkan dari akidah tersebut sembari mencari "syariat" lain. Ia akan memahami bahwa akidah Islam dibangun di atas landasan keimanan kepada Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Karenanya, ia akan meyakini pula bahwa Allah Yang Maha Pencipta pasti mengetahui semua yang diciptakan-Nya; mengetahui mana yang layak bagi manusia dan mana yang tidak.

Akidah Islam adalah akidah yang bersifat manusiawi, demikian pula syariatnya. Keduanya layak bagi manusia; tanpa memandang warna kulit, ras, atau unsur pembeda lainnya; juga tanpa memandang ruang dan waktu. Islam telah memberikan jawaban bagi setiap kebutuhan fisik dan naluri manusia. Islam telah memberikan solusi atas setiap problem yang dihadapi manusia sebagai pribadi ataupun bagian dari kelompok dan masyarakat. Sebab, Allah SWT berfirman:

Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Quran) ini sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum Muslim. (QS an-Nahl : 89).

Di masa lalu, di kalangan kaum Muslim maupun non-Muslim, kenyataan bahwa negara merupakan bagian dari Islam dan Islam terdiri dari akidah dan syariat adalah hal yang sudah sangat masyhur. Di samping itu, Islam telah menentukan hubungan luar negeri dengan negara-negara lain di atas landasan dakwah Islam dan jihad fi sabilillah. Islam membangun realitas tersebut sembari menetapkan target-targetnya, serta menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia, sehingga Islam seluruhnya hanya milik Allah.

Berbagai hubungan dan sistem yang ada tidak mungkin ditetapkan atau ditentukan oleh realitas yang ada atas nama ‘dinamika’ atau ‘perkembangan zaman’. Masalahnya, tidak bisa dikatakan bahwa, realitas kehidupan itu selalu berubah dan mengharuskan kita untuk menentukan bentuk-bentuk pendekatan yang tidak bertentangan dengannya. Inilah sebetulnya yang merupakan upaya Barat untuk menyesatkan kaum Muslim.

Sementara itu, kemajuan material/teknologi yang telah dicapai dunia saat ini—yang mampu memperpendek jarak, melipat waktu, dan memungkinkan manusia menembus batas-batas—sesungguhnya bukanlah sebagai penentu sistem kehidupan. Namun demikian, Daulah Islam pada saat berdirinya bisa memanfaatkan berbagai kemajuan sains ini dalam menerapkan akidah dan sistem Islam serta menyebarluaskannya; bukan dengan kekuatan, pemaksaan, dan tindakan zalim sebagaimana yang dilakukan oleh Barat saat ini. Sebab, Islam melakukan hal itu dengan argumentasi dan hal-hal yang memuaskan manusia, setelah sebelumnya menghilangkan berbagai penghalang yang bersifat fisik yang merintangi jalan dakwah. Upaya ini telah dilakukan oleh kaum Muslim di masa lalu, sebagaimana juga dituntut kepada kaum Muslim saat ini.

Dunia saat ini sesungguhnya telah terpedaya oleh—atau tunduk pada—berbagai propaganda Barat. Kenyataan ini merupakan akibat dari kosongnya dunia ini dari sebuah pemikiran yang bersifat ideologis yang mampu meng-counter serangan pemikiran, media massa, ekonomi, politik, maupun militer Barat. Padahal, jika saja dunia ini memiliki sebuah pemikiran ideologis kontra-Barat yang kapitalistik, niscaya ia akan memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Kaum Muslimlah—dengan ideologi Islamnya—yang diharapkan menjadi penantang Barat, mengungkap tabir kepalsuannya, dan sekaligus mengukuhkan kebenaran Islam. Sebab, merekalah yang menjadi pengemban ideologi yang benar; yang akan mampu menghancurkan ideologi kapitalisme yang zalim, imperialistik, dan telah membakar dunia dengan kejahatannya; sementara dunia ingin melepaskan diri darinya.

Islam adalah ideologi yang selaras dengan fitrah manusia dan mampu memuaskan akal mereka. Islam, sebagaimana di masa lalu mampu menciptakan kebahagiaan bagi umat manusia, pada saat ini pun diharapkan dapat memerankan fungsinya kembali. Sebab, manusia tetaplah sebagai manusia, tidak berubah. Sementara itu, sistem Islam yang lahir dari akidah Islam—yang pernah menciptakan kebahagiaan bagi umat manusia di masa lalu—masih tetap pada jatidirinya. Islam, dengan sumber-sumber syariatnya, mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia; betapapun persoalan-persoalan tersebut demikian banyak, berubah, bercabang, meluas, dan bertambah kompleks.

Di masa lalu, Daulah Islam sendiri mengalami perluasan. Sementara itu, pada saat yang sama, komunitas kaum Muslim terus bertambah, berbeda-beda gaya hidupnya, semakin kompleks interaksinya; di samping munculnya berbagai problem baru yang tidak ditemukan sebelumnya. Namun demikian, Daulah Islam dan para ulamanya tetap mampu memecahkan berbagai persoalan kompleks yang dihadapi umat manusia dalam berbagai periode mereka. Pada saat itu, mereka tetap menyandarkan diri pada metode Islam di dalam ijtihad mereka, serta terikat penuh dengan dasar-dasar dan kaidah-kaidah Islam yang kukuh. Pada saat itu pula, tidak tampak pada mereka adanya sebuah pemikiran pun bahwa Islam tidak akan berdaya dalam mengantisipasi zaman; bahwa Islam tidak akan mampu memecahkan berbagai problem kehidupan baru. Pemikiran tersebut hanya muncul pada saat ini, yakni pada saat adanya serangan pemikiran, politik, dan militer yang dilancarkan oleh Barat ke negeri-negeri kaum Muslim.

Islam Sebagai Rahmat
Seorang Muslim, siapa pun, sudah selayaknya meyakini bahwa syariat Islam merupakan rahmat bagi mereka, bahkan bagi seluruh alam. Karena itu, tidak ada alasan apapun untuk melakukan sekularisasi atau pemisahan akidah Islam dari syariatnya, karena Allah SWT berfirman:

Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS al-Anbiya': 107)

Berkaitan dengan ayat di atas, Syaikh an-Nawawi al-Jawi dalam tafsir Marah Labid (Tafsir Munir) Juz II/ 47 menafsirkan bahwa Allah tidaklah mengutus Nabi Muhammad saw. dengan membawa berbagai peraturan (syariat) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Rahmat dalam ayat di atas tidaklah berkaitan langsung dengan Muhammad saw. sebagai seorang manusia, tetapi berhubungan erat dengan posisinya sebagai rasul pembawa syariat yang memang paling unggul dibandingkan dengan aturan-aturan apapun yang ada di dunia. Artinya, pengagungan kaum Muslim terhadap pribadi Muhammad tidaklah akan mendatangkan berkah apa-apa, juga tidak akan menjadikan agama Islam mengungguli agama-agama/ideologi-ideologi lain, jika pada saat yang sama mereka mencampakkan syariat yang dibawanya. Allah SWT berfirman:

Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar Dia menangkan agama itu atas semua agama-agama lainnya. Cukuplah Allah sebagai saksi.(QS al-Fath: 28).

Dengan demikian, rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘âlamîn) akan tetap terwujud dalam realitas kehidupan kendati Nabi Muhammad saw. telah lama wafat; tentu saja jika seluruh risalah yang dibawanya diterapkan dalam realitas kehidupan. Sebaliknya, rahmat bagi seluruh alam itu tidak akan pernah muncul manakala kaum Muslim tidak menerapkan syariat Islam yang bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah. Karena itu, berbagai upaya untuk menutupi, menghambat, dan menentang penerapan syariat Islam pada hakikatnya adalah menutup diri dari rahmat Allah. Lebih dari itu, menolak syariat, pasti akan menuai laknat, di dunia dan akhirat.
Wallâhu a'lam bi ash-sawâb

*** wahai saudaraku... mari kita bertaubat dengan memperjuangkan kembalinya syariah sebagai tatanan kehidupan... yang telah lama kita tinggalkan.. Salam Kebangkitan Islam dan Salam Ukhuwah!! Allohu Akbar!!^^**

Apa Pengertian Syariat Islam itu?

HTI-Press. Kata syariah yang sering kita dengar adalah pengindonesiaan dari kata Arab, yakni as-Syarî’ah al-Islâmiyyah. Karena asalnya dari kata Arab maka pengertiannya harus kita pahami sesuai dengan pengertian orang-orang Arab sebagai pemilik bahasa itu. Tentu tidak boleh kita pahami menurut selera orang Indonesia. Karena yang lebih mengetahui pengertian bahasa itu adalah pemilik bahasa itu sendiri. Jadi orang non arab untuk memahami istilah syariah itu harus merujuk kepada pengertian orang arab.

Menurut Ibn al-Manzhur yang telah mengumpulkan pengertian dari ungkapan dalam bahasa arab asli dalam bukunya Lisân al’Arab .[1] secara bahasa syariah itu punya beberapa arti. Diantara artinya adalah masyra’ah al-mâ’ (sumber air). Hanya saja sumbr air tidak mereka sebut syarî’ah kecuali sumber itu airnya sangat berlimpah dan tidak habis-habis (kering). Kata syarî’ah itu asalnya dari kata kerja syara’a. kata ini menurut ar-Razi dalam bukunya Mukhtâr-us Shihah,[2] bisa berarti nahaja (menempuh), awdhaha (menjelaskan) dan bayyan-al masâlik (menunjukkan jalan). Sedangkan ungkapan syara’a lahum – yasyra’u – syar’an artinya adalah sanna (menetapkan). Sedang menurut Al-Jurjani, syarî’ah bisa juga artnya mazhab dan tharîqah mustaqîmah /jalan yang lurus.[3] Jadi arti kata syarî’ah secara bahasa banyak artinya. Ungkapan syari’ah Islamiyyah yang kita bicarakan maksudnya bukanlah semua arti secara bahasa itu.

Suatu istilah, sering dipakai untuk menyebut pengertian tertentu yang berbeda dari arti bahasanya. Lalu arti baru itu biasa dipakai dan mentradisi. Akhirnya setiap kali disebut istilah itu, ia langsung dipahami dengan arti baru yang berbeda dengan arti bahasanya. Contohnya kata shalat, secara bahasa artinya doa. Kemudian syariat menggunakan istilah shalat untuk menyebut serangkaian aktivitas mulai dari takbirat-ul ihram dan diakhiri salam, atau shalat yang kita kenal. Maka setiap disebut kata shalat, langsung kita pahami dengan aktivitas shalat, bukan lagi kita pahami sebagai doa.

Kata syarî’ah juga seperti itu, para ulama akhirnya menggunakan istilah syarîah dengan arti selain arti bahasanya, lalu mentradisi. Maka setiap disebut kata syarî’ah, langsung dipahami dengan artinya secara tradisi itu. Imam al-Qurthubi menyebut bahwa syarî’ah artinya adalah agama yang ditetapkan oleh Allah Swt untuk hamba-hamba-Nya yang terdiri dari berbagai hukum dan ketentuan.[4] Hukum dan ketentuan Allah itu disebut syariat karena memiliki kesamaan dengan sumber air minum yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Makanya menurut Ibn-ul Manzhur syariat itu artinya sama dengan agama.[5]

Pengertian syariat Islam bisa kita peroleh dengan menggabungkan pengertian syariat dan Islam. Untuk kata Islam, secara bahasa artinya inqiyâd (tunduk) dan istislâm li Allah (berserah diri kepada Alah). Hanya saja al-Quran menggunakan kata Islam untuk menyebut agama yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad saw. Firman Allah menyatakan :

] الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا [

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (TQS. al-Mâ’idah [05]: 3)

[1] Ibn al-Manzhur, Lisân al-‘Arab, juz I hal.175

[2] Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihah, hal. 294

[3] Al-Jurjani, at-Ta’rifât, hal. 167

[4] Imam al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, juz XVI hal. 163

[5] Ibn al-Manzhur, Lisân al-‘Arab, juz XI, hal. 631


link: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/09/20/pengertian-syariah/

"LOON" PENYANYI RAP TERKENAL AS YANG MASUK ISLAM

Grup music rap Bad Boy amatlah kesohor di Amerika. Loon adalah penyanyi yang terkenal bersama grup tersebut yang memiliki nama asli Chauncey L. Hawkins. Setelah masuk Islam, Loon merubah namanya menjadi Amir Junaid Muhaddith. Bukan hanya Loon yang masuk Islam, isteri dan anak-anaknya juga ikut langkah baik pemimpin keluarga mereka.

Tidak nerapa lama setelah masuk Islam, Amir berangkat ke tanah suci Makkah, bertemu dengan para Imam Masjidil Haram.

Di depan Ka’bah itulah Amir menemukan jati dirinya sebagai seorang hamba Allah yang memiliki misi ibadah kepada-Nya. Amir masuk Islam setelah kumpulan lagu terakhirnya terjual 7 juta copy. Coba bayangkan, kalau per copy saja keuntungannya $ 1.00, maka maka sekitar $ 7 juta masuk kekantong Loon, atau sekitar 70 miliyar rupiah.

Sungguh uang yang sangat banyak bukan ?

Uang yang melimpah yang ia hasilkan dari musik itu ternyata tidak membuat Amir semakin menikmati hidup ini. Bukan uang yang melimpah dan ketenaran sejagat yang membuat Amir menikmati kebahagiaan hidup. Soal uang, ketenaran dan berbagai penghormatan manusia sudah ia dapatkan, baik di Amerika sendiri maupun dari kawasan dunia lainnya. Lalu, Islamlah yang ia pilih untuk menggapai kebahagiaan hakiki itu. Ternyata semua bentuk kesuksesan dunia yang ia dapatkan, tak menghalanginya untuk masuk Islam dan memilih Islam sebagai the way of life-nya.

Tak heran jika setiap Muslim yang melihat atau mendengar kisah Loon ini, spontan terucap di lidah mereka : Alhamdulillah, selamat datang saudaraku seiman. Salut luar biasa. Harta yang melimpah dan ketenaran sejagat ditinggalkan demi hidup sebagai seorang Muslim yang taat. Sementara di negeri kami yang terkenal sebagai negeri Muslim, malah orang berlomba-lomba mengejar fatamorgana dunia dan ketenaran itu.

Sungguh besar pengorbananmu. Uang, harta dan ketenaran itu mungkin tidak akan Anda dapatkan lagi seperti saat sebelum memilih agama yang benar ini sebagai jalan hidup. Pasti Amir sudah memperkirakan itu semua dengan penuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam. Itulah resiko menjadi Muslim taat, khususnya di Amerika yang terkenal pemerintahnya anti Muslim taat seperti Amir.

Amir menemukan cahaya Islam belum genap satu tahun, atau sekitar 10 bulan lalu. Musim Haji yang lalu, ia datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji dan berkunjung ke Madinah, kota Rasul Saw. Amir juga berkunjung ke Riyadh, ibu kota Kerajaan Arab Saudi dan bahkan ke beberapa kota di negara-negara Arab teluk, seperti United Arab Emirates. Dalam kunjungannya itu, Amir mendapatkan sambutan yang luar biasa. Beberapa media pun antri untuk mewawancarainya, termasuk Aljazeera, stasiun tv terkemuka di Qatar yang mampu melawan kebohongan dan hegemoni CNN milik raja media Yahudi bernama Murdoch.

Amir yang saat ini berusia 34 tahun menceritakan isi hatinya yang paling dalam tentang keislamannya sambil berkata : Saya meraih ketenaran yang luar biasa di kalangan masyarakat Amerika karena musik. Saya sukses luar biasa dalam dunia musik sehingga saya menjadi 10 penyanyi top Amerika berdasarkan rating media Amerika sendiri. Ketenaran saya meningkat tajam saat berduet bersama penyanyi kelas dunia Bop Diddy sehingga penjualan kaset rekaman lagunya lebih dari 7 juta copy. Saya telah menulis 52 lagu.

Amir menambahkan; Anda boleh percaya atau tidak. Kendati memiliki harta yang melimpah dan ketenaran, saya tidak pernah merasakan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Sampai ketika saya berkunjung ke Abu Dhabi 7 bulan yang lalu, saya terkaget-kaget dengan budaya kaum Muslimin Arab. Saat itu saya mendengar lantunan suara azan dan saya melihat orang-orang bergerak menuju Masjid-Masjid yang terdekat untuk menunaikan shalat. Mereka terlihat berakhlak mulia dan berinteraksi dengan baik dengan siapa saja. Saat itu timbul pertanyaan dalam benak saya tentang hakikat agama mereka (Islam). Apakah Islam itu hanya khusus untuk bangsa Arab, atau untuk semua manusia? Sampai akhirnya saya mendapat jawaban yang konprehensif bahwa Islam itu adalah agama untuk semua manusia, tanpa membedakan keturunan, suku dan bangsa.

Setelah berfikir mendalam, saya putuskan masuk Islam dan saya shalat pertama kali saat kembali ke tempat tinggal saya di New York. Sejak itulah saya berubah total. Saya tinggalkan musik secara total. Saya keluar total dari komunitas di mana saya habiskan hidup saya sebelumnya selama 17 tahun. Sekarang saya merasakan ketenangan batin yang sejak lama saya rindukan. Saya merasa bertambah tenang lagi setelah isteri dan anak saya juga masuk Islam.

Semangat saya untuk belajar dan mengenal Islam semakin bertambah, karena tertanam niat dan tekad untuk mengajak orang lain kembali kepada Islam. Saya juga telah bergabung dengan lembaga dakwah Islam Kanada, bidang penyebaran Islam. Saya memiliki program khusus terkait masalah tersebut, yakni mengajak para penyanyi dan seniman top dunia untuk mengenal Islam dan prinsip-prinsipnya.

Terakhir Amir menyampaikan nasehatnya kepada generasi muda Muslim di mana saja berada : Ini adalah ucapan saya yang keluar dari lubuk hati yang dalam. Kepada setiap pemuda dan generasi Muda Muslim. Jangan sekali-kali terpengaruh oleh peradaban Barat, demikian juga dengan tradisi mereka.

Jangan sekali-kali meniru lagu-lagu Barat dan prilaku mereka serta apa saja yang dilakukan oleh penyanyi Amerika atau Barat lainnya. Berbanggalah dengan Islam dan agama ini yang sekarang sedang dicari-cari oleh orang-orang kaya dan orang-orang terkenal di dunia. Setelah mereka mengenal Islam, mereka akan tahu bahwa apa yang mereka kerjakan bertahun-tahun sebelumnya tidaklah bermutu dan berguna.

Banggalah Anda sebagai Muslim. Kenalilah Allah sebagai Tuhan Pencipta dan kenalilah Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul yang membawa misi keselamatan. Shadaqta ya Amir. Anda benar saudaraku… (FJ/ berbagai sumber).

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/penyanyi-rap-as-masuk-islam-setelah-mendengar-lantunan-adzan.htm

PROFESOR AMERIKA MASUK ISLAM DI SAUDI

umber dari media Timur Tengah mengatakan bahwa seorang profesor dari Universitas Amerika menyatakan dirinya masuk Islam di sebuah masjid di sekretariat majelis pemuda muslim dunia di ibukota Saudi Riyadh hari Senin kemarin (22/2).

Surat kabar Al-Jazeera melaporkan bahwa profesor Amerika tersebut merupakan dosen bahasa Inggris untuk mahasiswa pada tahun persiapan di universitas King Saud University, dan setelah dirinya menyatakan masuk Islam, ia diberi nama Islam dengan nama Shalahuddin (Saladin).

Surat kabar Al-Jazeera menyatakan bahwa profesor Amerika itu telah berada di Riyadh sejak empat bulan yang lalu, dan ia mengatakan bahwa ia sangat menikmati hubungan persahabatan dan sosial yang ada di universitas dan dunia akademis.

Dikutip oleh Al-Jazeera, profesor universitas dari Amerika ini menegaskan bahwa keinginan dirinya untuk masuk Islam datang dari keyakinannya yang totalitas terhadap Islam, ketika ia menemukan kepuasan spriritual dalam jiwanya dan ketenangan hatinya dalam Islam.

Profesor Amerika tersebut menjelaskan bahwa temannya yang seorang muslim Inggris asal India yang telah banyak membantu dirinya mengenal Islam melalui beberapa buku dan publikasi tentang dasar-dasar Islam yang memberikan ia pemahaman terkait prinsip-prinsip Islam serta membantu dirinya memahami agama baru bagi dirinya itu lebih baik lagi. (fq/imo)

Minggu, 21 Februari 2010

NASEHAT UNTUK IKHWAN DAN AKHWAT

Inilah nasehatku kepada ikhwan dan akhwat fillah pada khususnya, dan kepada seluruh manusia pada umumnya. Inilah nasehatku buat kalian dan juga buat diriku sendiri. Yaitu ; hendaklah kita senantiasa memperhatikan Al-Qur'an, merenungi makna-maknanya. mengahafalnya di luar kepala, tamak untuk terus menerus membacanya, sesekali membaca dengan cara melihat pada mushaf, kali lain membaca dengan hafalan tanpa melihat mushaf. Manakala pembaca Al-Qur'an tergolong yang sudah hafal maka ditindaklanjuti dengan merenungi, memikirkan, dan mencari faedah dari apa yang dibaca. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah :

"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran". [Shad : 29].

Adapun pelaksanaannya yaitu dengan pengamalan, pemahaman dan pendalaman. Allah subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Al-Qur'an untuk diamalkan, dikaji dan didalami. Allah berfirman :

"Artinya : Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat". [Al-An'am : 155]

Al-Qur'an ini diturunkan untuk diamalkan dan diikuti. Tidak semata-mata hanya untuk dibaca dan dihafal. Karena menghafal dan membaca itu sekedar perantara saja. Adapun yang dimaksudkan adalah memahami kitab dan sunnah disertai dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangannya. Hal itu terkumpul dalam perintah Allah Ta'ala di dalam surat At-Taubah : 71.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [At-Taubah : 71]

Ayat ini merupakan kumpulan dari ayat-ayat yang secara menyeluruh menjelaskan sifat-sifat mukmin dan mukminat dan akhlaknya yang agung serta apa-apa yang diwajibkan atas mereka. Maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain". [At-Tubah : 71].

Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mukminin dan mukminat, mereka itu adalah saling menjadi wali satu sama lain, mereka saling memberi nasehat dan saling mencintai karena Allah dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran dan saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa. Demikian sifat mukminin dan mukminat.

Seorang mukminin menjadi wali atas saudaranya fillah, yang laki-laki dan perempuan. Seorang mukminat menjadi wali bagi saudaranya fillah, baik yang laki-laki dan perempuan. Masing-masing diantara mereka merasa senang terhadap kebaikan (yang diperoleh) saudaranya. Mereka mendoakan kebaikannya, turut bahagia atas keistiqamahan saudaranya dan mencegah keburukan yang akan menimpanya, tidak melakukan ghibah padanya, tidak berbicara yang dapat menjatuhkan kehormatannya, tidak mengadu domba tidak memberikan persaksian palsu atasnya dan tidak memakinya, serta tidak memanggilnya dengan panggilan bathil. Demikianlah akhlak mukminin dan mukminat.

Manakala kau dapatkan dirimu menyakiti saudaramu fillah baik laki-laki atau perempaun misalkan dengan mengghibah, mencela, mengadu domba atau mendustainya dan lain semisalnya, ketahuilah bahwa keimananmu kurang atau engkau adalah orang yang lemah iman. Seandainya keimananmu itu benar-benar lurus lagi sempurna, niscaya kamu tidak akan mendhalimi saudaramu atau melakukan ghibah dan adu domba, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan bathil, atau memberikan persaksian palsu atau sumpah palsu atau mencacinya dan semisalnya. Maka keimanan kepada Allah, dan rasul-Nya, taqwa kepada Allah, kebaikan dan hidayah, kesemuanya itu mencegah seseorang melakukan tindakan yang menyakitkan saudaranya fillah baik laki-laki atau wanita. Mereka dilarang melakukan ghibah, cacian, kedustaan, memanggil dengan sebutan yang bathil, mempersaksikan dengan kedustaan dan berbagi macam tindak kezhaliman. Keimanan seseorang yang benar, merintangi dan menghalangi untuk berbuat berbagi tindakan yang menyakitkan saudaranya.

Allah berfirman :

"Artinya : .... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar,....." [At-Taubah : 71]

Inilah kewajiban yang besar yang didalamnya ada kebaikan bagi umat, kemenangan bagi agama dan terhindarnya sebab-sebab kebinasaan, kemaksiatan dan kejahatan.

Sudah selayaknya bagi mukminin dan mukminat untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Seorang mukmin tidak akan berdiam diri melihat kemungkaran yang terjadi pada saudaranya, pastilah ia berusaha untuk mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudara, bibi atau saudari perempuan yang lain melakukan kemaksiatan pastilah mereka akan mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudaranya fillah meremehkan kewajiban pastikah akan mengingkarinya dan memerintahkannya kepada kebaikan. Itu semua dilakukan dengan bijak dan cara yang baik. Seorang mukmin apabila melihat saudaranya bermalas-malas dalam menunaikan shalat, melakukan ghibah, adu domba, minum khamr, merokok, mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali persaudaraan, pastilah ia akan mengingkarinya dengan ucapan yang baik dan cara yang tepat, ia tidak menuduhnya dengan sebutan yang dibenci atau dengan cara yang kasar. Allah telah memberikan penjelasan bahwa hal tersebut adalah dilarang.

Demikian pula jika ia melihat kemungkaran pada diri saudara perempuannya fillah, ia harus mengingkarinya. Seperti tatkala dia tidak patuh kepada orang tuanya, berlaku buruk pada suaminya, meremehkan pendidikan anak-anaknya atau meremehkan shalatnya, maka seorang mukmin harus mengingkarinya, baik (ia itu) suaminya, ayahnya, saudaranya, kemenakannya atau bahkan tidak ada hubungan kekerabatan dengannya. Sebaliknya jika seorang mukminah melihat pada diri suaminya sikap meremehkan (kewajiban), ia pun harus melarangnya. Seperti, jika ia melihat suaminya minum khamr, merokok,meremehkan shalat atau suaminya shalat fardhu di rumah (tidak di masjid), maka ia harus mengingkarinya dengan cara yang baik dan ucapan yang baik pula. Seperti dengan mengatakan (kepada suaminya), "Wahai Hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah ! Sesungguhnya perbuatan itu tidak boleh kamu lakukan. Peliharalah shalat jama'ah. Tinggalkanlah apa yang telah diharamkan Allah kepadamu dari minuman yang memabukkan, merokok, mencukur jenggot, memanjangkan kumis atau isbal".

Kemungkaran-kemungkaran ini wajib diingkari oleh setiap orang beriman. Maka hal ini wajib atas suami dan istri, saudara, kerabat, tetangga, teman duduk dan yang lain untuk menegakkan kewajiban ini. Sebagaimana firman Allah :

"Artinya : ... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar ....". [At-Taubah : 71]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya, apabila manusia telah melihat kemungkaran, lalu ia tidak mau merubahnya, dikhawatirkan Allah akan meratakan adzab-Nya".

"Artinya : Barangsiapa di antara kamu sekalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman".

Perintah ini berlaku umum untuk seluruh bentuk kemungkaran, baik yang terjadi di jalan-jalan, di rumah, di masjid, di kapal terbang, di kereta api, di mobil atau di tempat mana saja. Perintah amar ma'ruf nahi mungkar itu berlaku secara umum baik kepada laki-laki atau perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan harus berbicara tentang amar ma'ruf dan nahi mungkar. Karena amar ma'ruf nahi mungkar membawa kebaikan dan keselamatan untuk semua pihak. Tak seorangpun boleh berdiam diri dari amar ma'ruf nahi mungkar semata-mata karena takut kepada setiap muslim atau takut kepada suami, saudara laki-laki atau fulan dan fulan. Setiap muslim harus tetap beramar ma'ruf nahi mungkar dengan cara yang baik dan ucapan yang mengena, tidak dengan cara yang kasar dan keras. Disamping juga memperhatikan waktu yang tepat. Ada kalanya, seseorang tidak bisa menerima pengarahan pada waktu tertentu, tetapi ia bisa menerima pengarahan pada waktu yang lain, bahkan dengan lapang dada.